Rubrik Kesehatan: Herbal untuk Mengobati Radang Pembuluh Darah (Vasculitis)

4285
kesehatan radang pembuluh darah

Mengobati Radang Pembuluh Darah (Vasculitis)

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Saya pemuda usia 22 tahun. Didiagnosa dokter menderita radang pembuluh darah (vasculitis). Penyakit ini saya rasakan semenjak 4 tahun yang lalu. Setelah kemah di hutan daerah Boyolali selama 3 hari, sesampainya di rumah kaki dan tangan saya terdapat bintik-bintik merah mirip digigit nyamuk. Setelah itu jika tubuh drop, bintik merah terjadi semakin banyak dan semakin besar. Tidak hanya itu, setiap kali kambuh, kaki dan tangan saya terasa sakit, terutama pada persendian. Suhu tubuh panas, bahkan sampai tidak bisa jalan dan duduk, hanya bisa berbaring.

Oleh dokter, saya diberikan obat medixon 16 mg dan celebrex 200mg. Alhamdulillah rasa sakit hilang. Hingga sekarang saya masih mengkonsumsi yang medixon, tapi dosis saya kurangi secara bertahap, hingga dalam tempo 4 tahun saya konsumsi medixon yang 4mg. Hal ini saya lakukan tanpa sepengetahuan dokter karena saya sudah tidak pernah lagi kontrol ke dokter.

Yang ingin saya tanyakan, apakah tidak masalah obat seperti medixon dikonsumsi dalam waktu lama? Kalaupun bermasalah, tubuh saya akan langsung sakit-sakit jika satu hari saja tidak mengkonsumsi medixon. Adakah obat herbal pengganti dari medixon yang dapat memberikan manfaat bagi tubuh saya dan mengobati vasculitis?

Syukron

Dari: Roni

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang Saudara berikan kepada kami.

Gejala yang Saudara sebutkan berupa timbulnya bintik merah yang membesar, nyeri otot dan sendi yang berat disertai demam, memang konsisten dengan ciri penyakit vaskulitis. Meskipun demikian, vaskulitis masih merupakan spektrum penyakit luas yang terdiri dari beberapa penyakit yang berlainan karakter namun berciri utama peradangan pembuluh darah baik besar maupun kecil, dan tipe pengobatan yang mirip satu sama lain, contohnya seperti Arteritis Takayasu, Henoch-Schonlein Purpura, Vaskulitis kutaneus, dan Polyarteritis Nodosa. Proses ini dapat bersifat merusak dinding pembuluh darah, dan dapat menyebabkan tersumbatnya aliran darah ke organ vital seperti ginjal, otak, dsb, menyebabkan kurangnya pasokan darah bahkan kematian sel-sel organ.

Karena vaskulitis pada dasarnya merupakan suatu proses peradangan, yang bisa bersifat primer (sebabnya belum diketahui) maupun sekunder (dipicu oleh agen tertentu, semisal toksin, obat, gigitan serangga, infeksi virus, dsb), maka pengobatannya diarahkan dengan menekan respon peradangan yang membahayakan tersebut, dan pengobatan standar yang diberikan berupa antihistamin (pada kondisi yang sesuai vaskulitis kutaneus), kortikosteroid (seperti medixon yang Saudara gunakan) dan obat imunosupresor, seperti siklofosfamid, azathioprin, dan methotrexate. Kortikosteroid lebih sering diresepkan, dan imunosupresor hanya diberikan jika dipandang perlu untuk melindungi organ dan merangsang timbulnya perbaikan keluhan.

Terkait pertanyaan Saudara, memang benar bahwa konsumsi kortikosteroid jenis apapun dalam jangka panjang, terlebih pada dosis besar, dapat menyebabkan sejumlah efek samping, seperti penimbunan lemak tubuh di dada, wajah, dan perut, osteoporosis, katarak, hipertensi, diabetes, depresi, dan lainnya. Oleh karena itu, protokol penggunaan kortikosteroid dalam terapi vaskulitis haruslah dikurangi dosisnya secara bertahap (tapering) untuk mencapai dosis terendah yang tetap dapat menstabilkan kondisi dan meniadakan keluhan peradangan. Tapering ini harus dilakukan dalam pengawasan dokter, dan tidak boleh dilakukan sembarangan sebab jika tidak hati-hati, dapat memicu efek withdrawal kortikosteroid, bahkan krisis adrenal yang merupakan kegawatdaruratan akibat tubuh tidak memproduksi hormon kortisol yang cukup.

Tapering yang sukses, dengan pertolongan Allah Ta’ala semata, bahkan dapat diikuti bebas obat sama sekali dan kondisi tetap stabil. Proses ini dapat memakan waktu singkat hingga beberapa tahun, bergantung dari jenis vaskulitis yang diderita dan responnya terhadap obat.

Saran kami, hendaknya Saudara kembali berkonsultasi dengan dokter (lebih baik lagi dokter yang paling awal menegakkan diagnosis Saudara) dan saling bermitra dalam pengobatan Saudara. Jika prosedur pengobatan dijalani dengan benar, insya Allah efek samping jangka panjang yang dikhawatirkan dapat diminimalisir bahkan ditiadakan.

Penyembuhan vaskulitis, sebagaimana beberapa penyakit autoimun, memerlukan waktu yang panjang dan kesabaran, namun yakinlah bahwa dibalik semuanya ada hikmahnya. Hendaknya Saudara bersabar dan mengharap pahala Allah Ta’ala semata sambil terus berusaha. Jika memang kesulitan akan pembiayaan, karena kontrol rutin yang terus menerus, maka sebaiknya hal ini dikomunikasikan dengan dokter Saudara dengan baik, mungkin saja dokter akan mengerti dan memberikan dispensasi, sebagaimana banyak terjadi pada sejawat kami tersebut.

Adapun obat herbal, kami belum mengetahui prinsip pengobatan herbal untuk penyembuhan vaskulitis, namun radang dan nyeri pada sendi misalnya, dapat diringankan dengan konsumsi beras kencur, jahe merah, ekstrak temulawak, ekstrak kunyit, dan daun salam.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

SHARE
Previous articleBahayakah Memakai Headset?
Next articleKesehatan: Mimisan Berulang-ulang
dr. Hafidz, salah satu pembina konsultasi kesehatan di situs KonsultasiSyariah.com Beliau adalah alumni fakultas kedokteran UGM, dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah.